Ijen

Sedino-dino Mung Nangis Gawene …… (sehari-hari pekerjaannya hanya menangis)”. Sepenggal lagu khas Banyuwangi yang kadang terdengat saat berada di kawah Ijen. Lagu tersebut dinyanyikan oleh salah satu penambang belerang di kawah Ijen.

Jika kita mendengar kata “IJEN”, pasti pikiran kita tertuju pada satu hal, yaitu : Kawah Ijen. Kawah yang konon paling eksotik di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Namun dibalik eksotika sebuah kawah Ijen terdapat kehidupan yang keras. Dan kerasnya kehidupan disana dirasakan oleh para penambang belerang disana.

Dari ketinggian 2386 meter, di saat pagi buta, para penambang harus turun melewati jalan yang terjal dan licin sebelum menuju tambang belerang. Dingin, jalanan yang terjal, asap belerang merupakan sarapan mereka.

Dengan bersenjata sepatu bot dan keranjang pikul, para penambang mengangkut bongkahan sulfur berwarna kuning dan oranye yang telah membeku. Beban angkut mereka rata-rata 70-100 kg. Setelah sampai di Pos Paltuding, belerang ditimbang dan uang-uang kertaspun dibagikan kepada para penambang. Satu kilo belerang dihargai Rp. 345,-. Upah yang sungguh kecil bila dibanding dengan keringat yang mereka keluarkan.

Budiono, salah satu dari ratusan penambang belerang, sudah 35 tahun bekerja di Ijen. Ketika ditanya tujuan Budiono bekerja di tambang ini selain untuk menghidupi anak dan istri, dengan santai ia menjawab, “menjaga supaya tambang ini nggak terbakar Mas”. Keindahan panorama Ijen dan kerasnya kehidupan para penambang membuat fotografer dunia seperti James Natchway dan S. Salgado datang ke Ijen. Natchway pernah berkata kepada Budiono bahwa kawah Ijen merupakan salah satu tempat terberat yang pernah ia singgahi.

Sungguh pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa dan hanya mendapat secuil upah. Jika orang-orang dalam pemerintahan hanya duduk, memikul kekuasaan dan menikmati PP no 37/2006, maka penambang di kawah Ijen harus berjalan berkilo-kilo dan memikul +/- 100 kg belerang. Sungguh keadaan yang sangat ironis.

Dan nyanyian mereka mungkin sangat benar, ”Sedino-dino Mung Nangis Gawene…”.

One thought on “Ijen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.